Kamis, 07 Januari 2010

Dibuang Sayang

Di meja kerja saya ada sebuah “kotak dibuang sayang”. Di dalamnya saya taruh banyak pena yang sudah tidak berfungsi lagi. Mau dibuang sayang, sebab banyak di antaranya merupakan hadiah dari para sahabat. Pena-pena itu masih indah dipajang. Lagipula punya nilai sejarah. Jadi, saya biarkan saja mereka di sana bertahun-tahun. Tidak bisa lagi dipakai. Sudah didiskualifikasi.
Rasul Paulus tidak mau dirinya kelak menjadi seperti pena pajangan. Ia tidak mau dirinya nanti “ditolak” Tuhan. Maksudnya bukanlah ditolak masuk surga, melainkan didiskualifikasi. Dipandang tidak layak lagi dipakai sebagai alat-Nya. Dimasukkan dalam “kotak dibuang sayang”. Itu bisa terjadi jika ia terjebak dalam kenikmatan hidup. Sebagai pemimpin jemaat, ia memiliki banyak hak, kuasa, dan fasilitas (1 Korintus 9:1-6,15,19). Jika semua itu yang dipentingkan, ia akan kehilangan orientasi kepada Tuhan. Oleh sebab itu, Paulus berupaya keras untuk “melatih dan menguasai dirinya”. Artinya, terus menjaga kemurnian hati dalam pelayanan. Bukannya menjadi “bos” di gereja, Paulus lebih suka belajar menjadi “hamba bagi semua orang”, supaya Injil Kristus dapat diterima oleh sebanyak mungkin orang.
Jika seorang kristiani tak lagi dapat berfungsi sebagai garam dan terang, ia laksana pena pajangan yang telah kehilangan fungsinya. Maka, jangan biarkan diri terjebak dalam kenikmatan hak, kuasa, dan fasilitas, sampai-sampai kita hanya sibuk untuk diri sendiri. Mari belajar mengosongkan diri, supaya Tuhan dapat efektif memakai kita sebagai hamba-Nya. Jangan sampai kita didiskualifikasi.

JANGAN PUAS MENJADI ORANG YANG DISELAMATKAN TUHAN. JADILAH ORANG YANG DIPAKAI TUHAN

Pengabdian Terbaik

Ada cerita tentang seorang tukang yang telah bekerja puluhan tahun dan ingin pensiun. Ketika ia pamit, kontraktor yang mempekerjakannya memintanya membuatkan sebuah rumah lagi. Si tukang yang sudah sangat ingin pensiun, tak begitu senang mendapat tugas terakhir ini. Maka, ia bekerja setengah hati. Ia tak sungguh-sungguh memilih material maupun mengerjakan bagian-bagiannya. Pokoknya ia ingin segera selesai dan bebas tugas. Maka, rumah itu tak memiliki kualitas terbaik yang sebenarnya bisa ia berikan. Begitu rumah itu jadi, segera ia serahkan kuncinya kepada si kontraktor. Namun, si kontraktor mengembalikannya lagi kepada si tukang, dengan ucapan, “Terimalah, rumah ini adalah hadiah untukmu dan keluargamu.” Betapa menyesal si tukang, sebab jika ia tahu rumah itu akan ia tempati, pasti ia membangunnya dengan cara yang sangat berbeda!

Kehidupan yang kita bangun tiap-tiap hari, ibarat rumah yang kelak akan kita tinggali. Maka bahan dan cara yang kita pakai saat membangun, merupakan tanggung jawab dan pilihan pribadi kita. Pertanyaannya, sudahkah kita selalu memberi pemikiran terbaik, usaha terbaik, serta keputusan terbaik ketika membangun hidup ini, sehingga kita mencapai tujuan Allah menciptakan kita?

kita tak ingin menyesal melihat hidup kita di akhir tahun kelak, mari memulai tahun ini dengan melihat tujuan akhir seperti yang diungkap Paulus, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10). Mari capai tujuan akhir kita dengan pengabdian terbaik setiap hari!

HIDUP MENCAPAI TUJUAN TERBAIK KETIKA HATI MAU MEMPERSEMBAHKAN YANG TERBAIK

dikutip:/www.renunganharian.net